Jumat, 07 Oktober 2011

Informasi


Dewasa ini, kita hidup di dunia yang mengandalkan media apapun bentuknya. Media cetak ataupun elektronik, ditambah media jejaring sosial di internet seperti facebook, twitter dan lainnya. Seperti yang terjadi saat ini, dimana media hampir bisa dibilang mempengaruhi publik dalam berbagai hal. Apapun yang diberitakan media, publik pun langsung merespon dengan beragam tanggapan, baik positif atau negatif. Memang, dibanding dengan masa-masa terdahulu, saat ini media lebih terbuka dan kritis terhadap berbagai situasi dan kondisi terkait dengan berbagai hal terutama yang menyangkut kebijakan pemerintah. Ini adalah sesuatu yang bagus, dan menunjukkann bahwa media komunikasi kita semakin berkembang dan bergerak maju sesuai dengan zaman.

Tapi, apakah ini sesuatu hal yang baik? Ketika kita merespon isu hanya ketika media mengeskposnya. Kita baru ribut-ribut dan berdiskusi dengan mendetail ketika suatu masalah menjadi isu publik. Kemana kita di saat sebelumnya?Tidurkah atau hanya diam saja?

Media adalah corong informasi yang cukup ampuh di zaman globalisasi seperti sekarang ini. Apapun yang dikatakan mereka, hampir dipastikan kita akan memperhatikannya dengan seksama. Tapi, bila corong ini menyampaikan sesuatu yang salah, bisa jadi malah kita yang jadi korbannya. Masih ingat dengan berita salah satu televisi swasta kita yang memberikan peringatan akan adanya wedhus gembel yang memasuki kota Yogyakarta? Masyarakat saat itu menjadi panik, dan sempat ada korban jiwa karena hal tersebut. Kemudian terbukti informasi yang disampaikan dalam berita itu salah adanya. Sangat berbahaya sekali bila kesalahan itu terjadi karena media tersebut tidak melakukan pengecekan terlebih dahulu akan keabsahan informasi tersebut. Dengan adanya reaksi masyarakat yang panik, kita bisa menyimpulkan pengaruh media terhadap keseharian kita cukup mumpuni. Kepercayaan masyarakat akan media sungguh tinggi. Berita-berita yang tersaji pun dilahap dengan apa adanya. Apabila media mengkritisi suatu hal, masyarakat pun menyetujuinya, begitu pula bila media menyuguhkan wacana yang positif dalam suatu perkara, publik pun kembali menyetujuinya. Dengan kata lain, media adalah pembentuk opini publik. 

Media bisa saja mengatasnamakan publik dengan berpendapat ‘A’ atau ‘B’ terhadap suatu isu, karena publik pun diyakini akan berpendapat sama. Teringat akan pendapat teman, jangan terlalu percaya dengan berita televisi. ‘kenapa?’ ujar saya. Teman saya ini orangtuanya tinggal di Yogya tapi dia sendiri kerja di Jakarta, dan ketika Merapi meletus orangtuanya berpesan untuk tidak terlalu mengkhawatirkan mereka. Kalau perlu matikan televisi kalau ada berita tentang Merapi di Yogya. Ini karena terkadang berita yang kita lihat di televisi terlalu berlebihan dan berakibat orang yang menontonnya merasa khawatir ataupun cemas. Padahal, yang terjadi di tempat kejadian tersebut ternyata tidak selalu seperti yang terlihat di televisi. Satu lagi contohnya, berita tsunami di Jepang pada awal tahun ini. Beritanya memang cukup menggemparkan. Saya pun ingin memastikan pada beberapa teman saya tentang keadaan sebenarnya di sana. Menurut penjelasan teman saya, memang pada awalnya cukup memprihatinkan, tapi selebihnya baik-baik saja. Kepercayaan terhadap media pun –bagi saya- cenderung menurun karena hal ini.  

Seperti halnya pula tabiat pemberitaan yang ada saat ini, Ketika satu berita sedang hangat-hangatnya dibahas, tak lama kemudian muncul berita baru yang pada akhirnya menenggelamkan berita sebelumnya. Ketika berita Century sedang ramai-ramainya diberitakan, muncullah berita tentang Gayus. Ketika Gayus naik menjadi topik utama, muncul berita Nazaruddin, korupsi wisma atlet dan lain-lain. Tidak adanya kejelasan tentang penyelesaiannya, tenggelam pula berita tentang masalah tersebut. Media seharusnya juga menjadi salah satu alat bagi masyarakat untuk memantau perkembangan yang ada di ranah informasi negeri kita ini. 

Bila boleh saya tambahkan, media haruslah independen dalam menyoroti berbagai informasi. Jangan terlalu memihak terhadap satu pihak atau golongan, seperti halnya T**ne yang sepertinya kering dalam liputan lumpur Lapindo..(^^). Ketika terjadi kerusuhanyang melibatkan aparat, kadangkala media menyalahkan aparat yang represif. Saya pikir tugas mereka hanyalah mengemban amanat dari atasan untuk mengamankan, dan terkadang sampai harus bertaruh nyawa. Dalam situasi tersebut, mungkin saja pihak aparat yang bersalah tapi bisa saja yang berlawanan dengannya yang bersalah. Intinya sih, dalam setiap pemberitaan, apapun itu, berikanlah porsi yang seimbang dari dua sisi dalam menyajikan informasi. Kembalikanlah kepada masyarakat untuk menilainya sendiri, dan jangan sampai menggiring opini publik. Sejak era reformasi, kebebasan dalam menyampaikan informasi sangatlah kita junjung, tapi harus tetap berjalan dalam koridornya. Saya penikmat berita-berita terkini, dan tetap ingin menikmati berita-berita tersebut tanpa kegelisahan serta kebimbangan..
...Informasi adalah sesuatu yang berharga. Berharga bila kita menyampaikannya dengan cermat, objektif dan transparan...

(NB:akhirnya ngeblog lagi setelah lama non aktif..mulai lagee,ahh!!)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar